Monday, January 18, 2016

Birthday on the Road

Hari ini usiaku dua puluh tahun.
Setengah dari hari ini kuhabiskan di jalan.
Perjalanan ke terminal bis, perjalanan naik bis dari Malang ke Surabaya, perjalanan mencari taksi, perjalanan naik taksi dari terminal ke bandara, dan tentu saja-- penantian di bandara sejak jam 4 hingga boarding jam setengah tujuh malam. Semuanya ... sendirian.
Mungkin beberapa dari kalian akan berpendapat bahwa hari ini cukup suram untuk seseorang yang sedang merayakan hari ulang tahunnya.
Tapi, percaya nggak?
Ini salah satu ulang tahun terbaik yang pernah aku lewati.


Soalnya... Gak ada yang ngalahin nikmatnya kesendirian.
Serius.
Kapan lagi aku bisa ngedate sama diri sendiri tanpa kelihatan kayak jones? Haha. Bebas banget rasanya.
Jalan kaki dengan ritmeku sendiri.
Makan secepat atau selambat yang kumau.
Bebaaaaaaass dengerin musik tanpa ada yang ngajak ngobrol.
Gak perlu atur fokus buat masuk ke dalam cerita teman seperjalanan.

Eits, jangan salah. Dengerin cerita orang itu salah satu hal favorit dalam daftar kegiatanku, kok. Tapi, kalau kamu harus tau, sebenernya itu juga salah satu kegiatan yang paling melelahkan. Sama kayak olahraga misalnya. Seru kan? Capek kan? Tapi karena seru jadi nggak berasa kan? Nah iya gitulah. Cuma, kadang kalo lagi capek, atau kurang tidur, atau sedang lelah, kita milih buat nggak olahraga, meskipun seru. Yah kira-kira kayak gitulah yang namanya "fokus" buat aku. Sangat melelahkan, tapi sedang dilatih, dan akan terus dilatih. Judulnya ADD, Attention Deficit Disorder. Aku bahas lagi kapan-kapan.

Balik ke kencan kita tadi, aku bener-bener ngedapetin apa yang aku harapkan buat ulangtahunku yang ke 20-- pergi ke tempat yang jauh, sendirian saja.
Sebenarnya ini berawal dari ketidaksengajaan, keteledoran, dan berkaitan dengan peretasan salah satu situs penerbangan dan kondisi alam, tapi... kita anggap saja ini kado dari Tuhan untukku.

Perjalanan ini... mungkin saja nggak hanya tentang nikmatnya me-time. Tapi juga bisa dimaknai sebagai perjalanan hidup, perjalanan kedewasaan.
Dalam perjalanan ini aku menyadari beberapa hal. Mungkin bukan sesuatu yang penting, tapi, entahlah; bagiku terasa penting.
Beberapa hari sebelum ulangtahunku, aku sibuk memikirkan bagaimana cara yang paling asik untuk menghabiskannya. Aku ngebet banget pengen dikasih kejutan sama sahabat-sahabatku, tapi, mengingat mereka semua cuek, rasa-rasanya nggak mungkin mereka bikin kayak gituan buat aku. Terus, apa nih? Traktir makan-makan? Traktir main ke BNS? Uangnya sih ada, tapi rasanya ada yang salah...

Entah kenapa pada saat itu aku berpikir bahwa setiap tahun, seperti inilah yang terjadi. Aku merasa seperti membayar teman-temanku untuk merayakan hari besarku bersamaku. Soalnya kalo disuruh bayar sendiri-sendiri, nggak mungkin pada dateng kan? Sigh...

Lalu aku berpikir lagi, berarti... cuma segitu harga persahabatan kita?? Hah?? *Indosiar mode ON*

Aku pusing.
Dalam hati berharap banget ulang tahun yang ke 20 bakal jadi spesial. Aku pikir, kini ketika aku sudah memiliki banyak teman, akhirnya aku bakal bisa mengejar momen-momen masa SMP dan SMAku yang tertinggal. Tapi melihat situasi dan kondisi, kayaknya nggak mungkin.
Galaulah aku berpikir bahwa aku tak punya teman.
Lalu, pencapaian emosionalku semenjak aku tiba di kota ini ya apa?
Aku merasa sudah banyak berkembang, tapi kok rewardnya tidak seperti yang diharapkan.


Kemudian ibuku menelepon.
"Ca, kita jalan-jalan aja berduaan. Udah lama kita nggak ngobrol."
Nah! Sip.
Sip banget.
Tiket pulang pun diatur.
Hati penuh antisipasi.
Matematika Teknik, lewat! Bekasi, ini aku datang.

Namun seperti yang sudah kalian tebak, rencana tak berjalan mulus.
Penerbangan dialihkan, informasi datang mendadak, semua travel penuh.
Bye-bye pulang cepat, ucapkan halo pada Jakarta malam.

Sialaaaaaannn, begitu pikirku saat kenyataan itu menghantamku.
Rencana gagal. Huh huh huh.

Ah, sudahlah.
Kita jalani saja.

Makan siang sebentar di McD sama orang terfavorit di Malang, dengan harapan bisa meredakan panas hati sejenak.
Ke terminal. Cuss.
Di bis, aku mulai masuk mode me-time versi video musik galau-galau:
Sumpel kuping dengan lagu, pandang pemandangan di luar sana, dan berpura-puralah kita yang sedang menyanyikan lagu itu.

Kedengerannya kayak galau ya? Nggak kok. Pasti kamu juga ngerti.
Nggak usah pura-pura nggak pernah ngelakuin ini.


Dalam perjalanan aku banyak berpikir.
Aneh sekali rasanya.
Meskipun sendirian, tapi tidak pernah benar-benar terasa seperti sendiri.
Mungkin efek ngobrol di line, tapi nggak kok, bukan itu.
Bahkan di saat nggak lagi megang hp, rasanya bener-bener kayak penuh.
Kemudian aku tersadar.
Jawabannya ada di jawabanku yang setengah asal untuk doa ulangtahun dari salah satu orang tersayang.

"Semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan untuk ulangtahun yang ini."
"Hah? Udah dapet kok. Udah dapet dari dulu."

Itu ngasal sih. Setengah pengen becanda tapi gagal.
Tapi ada kebenaran yang sangat terasa, sekarang, di baliknya.


Pikiran balik mengkhayal ke saat-saat menuju tanggal ini.

Tsundere-chan yang udah nganterin ke terminal.
Teman-teman yang udah ngucapin selamat ulang tahun dengan senyum di pagi hari.
Wajah-wajah yang menyapa diriqu yang sesungguhnya sering nggak masuk kelas.
Orang yang kelihatannya kayak biasa aja nggak peduli tapi ternyata rajin ngikutin tulisanku.
Ibuku yang menelepon pagi tadi... menyelamatkanku dari nyaris nggak bangun buat ujian.
Papaku yang meskipun sakit bela-belain ngurus tiket, yang, sejujurnya, udah seumur gini harusnya ngurus sendiri.
Malam sebelumnya.
Natalan yang sangat menyenangkan bersama saudara-saudara seiman.
Ada sedikit haru yang terselip melihat bagaimana KMK yang sudah kutinggalkan begitu lama masih memperlakukanku layaknya teman lama.
Kolam renang.
Kembang api.
Lesung pipi.
Sesi curhat dan nyanyi-nyanyi di bawah bintang dan selimut (dan bulu).

Malam sebelumnya lagi.
Diskusi panjang bersama dua kawan tercinta.
Bagaimana mereka suka meledekku, bilang aku bukan cewek, tapi ujung-ujungnya dijaga juga.
Cerita dari hati yang paling dalam, dari seseorang yang sangat tertutup.
Harapan bahwa pertemanan yang telah rusak memiliki kesempatan untuk kembali.
Kepercayaan yang sangat, sangat mahal.

Kado seperti apa lagi yang aku inginkan?

Ulang tahun seperti apa lagi yang aku dambakan?

Aku mencoba hal baru.
Bertemu teman baru.
Diceritakan kisah gagal kuliah oleh seorang supir taksi yang masih muda.
Menyaksikan berbagai macam tipe orang hari ini, dan membayangkan seperti apa hidup mereka.

Dan aku sadar, sesungguhnya aku tidak pernah sendiri, dan tidak pernah tidak diinginkan.

Dicintai oleh Tuhan.

Lewat jantungku yang berdetak, lewat nafasku yang memburu.
Desir darah di telingaku.
Rasa asin di lidahku.
Percik hujan yang mengalir indah di kaca jendela pesawat.
Sungai emas lampu-lampu kota Surabaya yang memanjakan mata sesaat sebelum lampu pesawat kembali dinyalakan.
Begitu indah aku sampai lupa bernafas.
Dan sadar bahwa di atas bumi yang begitu luas ini,

di dalam galaksi bima sakti yang semegah ini,
aku hanyalah setitik kecil hujan,
turun dan membasahi bumi hanya sekejap
untuk kemudian lenyap menjadi uap
dan kembali ke tempatku berasal.

Fakta bahwa aku pergi dari tempat di mana akan ada orang-orang yang merindukan aku
dan pulang ke tempat di mana ada orang-orang yang menantikan aku

Itu saja sudah cukup.

Sungguh hadiah yang luar biasa, membuatku menyadari semua itu.

Hari ini usiaku dua puluh tahun.
Jejak-jejak seperti apa yang sudah kutinggalkan?
Jejak-jejak seperti apa yang ingin kutinggalkan?

Di dunia, dan di hati orang-orang yang kutemui.
Mudah-mudahan, semoga,

baik adanya
dengan cara yang paling tak terpikirkan
Sama seperti bagaimana hari ini berubah dari hari yang menyebalkan menjadi indah.




4 comments:

  1. sometimes, everyone needs their me-time. i think i should have me-time on my birthday too. sounds good. btw rada ga suka sih sama paradoks (termasuk paradoks ga ya) anak remaja kalo ultah itu mesti traktir haha. bukannya ga ikhlas pas nraktir, bukannya lebih masuk akal pas ultah belanja sendiri semaunya? lebih bisa bikin bahagia ga sih? ahaha gue sih emang bukan tipe orang gila pesta. hanya fanatik makanan gratisan wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Biasanya sih w bahagia belanja sepuasnya kalo--kalo nih ya, duitnya ada, DAN--ini penting: barang yang dibeli udah dipengenin sejak lama. Tapi bener juga sih, makanan gratis, apapun alasannya, susah ditolak. Wkwk.

      Delete
  2. happy birthday Noskiii~
    btw, mager baca curhatan di atas hmm

    ReplyDelete

Penny for your thoughts?