atau perlahan menjadi lautan
Semakin manis dari minggu ke minggu. Ada baiknya tak perlulah dulu berpikir ini itu. Kutahan jariku untuk berkomentar tentang matanya dan (lagi-lagi) suaranya. Aku sadar betul, luar dan dalam tak selalu sama. Namun katanya, matalah jendela hati. Apa itu yang kulihat di balik teduh tatapannya? Diriku kah? Dirinya kah? Ah, aku tak tahu. Aku tak berani memandang lama-lama, takut nanti hanyut dan tak bisa berenang pulang.
Sabtu malam kemarin, udara cerah dan hangat. Mungkin sesekali langit Malang ingin istirahat sejenak dari kesedihan. Mendung di hatiku pun, berangsur-angsur menghilang. Lucu, cerah temu dengannya tidak terasa seperti matahari siang yang terik. Lebih seperti pagi yang perlahan-lahan menyelimuti. Dingin nafas berganti hangat debar jantung, samar-samar dalam keheningan.
Perlahan, perlahan. Semua geriknya berkata.
Aku tertunduk malu, sungguh aku dikuasai setiap atom dalam tubuhku.
Menit-menit yang kuhabiskan mengitari taman itu: begitu mahal, tak tergantikan.
Kuharap begitupun untuknya, jika tak terlalu lancang untuk berharap.
Seperti genangan, akankah bertahan? Wahai sang waktu, kemanakah ini kami melangkah? Arti pertemuan ini, aku percaya, tak hanya sekedar saja. Sama seperti banyak hal dalam hidup, sekecil apapun, setiap titik temu ada hikmahnya. Tak terkecuali satu hari di bulan Maret itu, tidakkah begitu?
Sekiranya jalan hidup kami bersilangan, kuharap persinggungan ini, singkat ataupun berkelanjutan, berlangsung sesuai hakikatnya; sekehendak sang Maha Tahu dan Maha Perencana.
apa yang kudapatkan tak seberapa
maka yang kuberikan memang hanya sederhana
dan semoga saja kau tak akan lupa
tentang kita~
No comments:
Post a Comment
Penny for your thoughts?