Sebagai geek yang jomblo bapuk dan belum pernah mengenal seperti apa rasanya disayang pacar, aku dulu sering baca-baca dan googling tentang fenomena jatuh cinta.
Like, what's the big deal?
Aku pengen tau banget kenapa orang-orang di sekitarku berlomba-lomba punya pacar, dan kenapa yang udah punya pacar bisa sampe segitunya dan lupa sama temen-temen sendiri, lupa sama belajar, lupa sama ortu, gitu-gitu lah.
Dulu aku suka berpikir kalo temen-temen tuh kayak gitu karena di masa-masa sekolah yang rapuh, status sosial itu sangat penting dalam menentukan harga diri sendiri. Iya kan? Inget deh, waktu SMP dulu, kalo gak punya pacar itu artinya = gak laku = gak keren. Believe me, aku tau banget rasanya dicap kayak gitu, hahaha.
Tentu saja waktu itu aku kepengen pacaran juga, aku gak bakal bohong hehehe. Tapi itu hanya karena aku pengen tau rasanya pegangan tangan (whoops, masih nggak tau sampe sekarang) dan... karena aku pikir, keren juga kalo aku punya pacar. Artinya aku keren! Artinya aku cantik! Semacam itulah. Punya pacar itu kayak tren, sama kayak dulu kalo belom pake BB itu belom gaul, jiaahhh. (Ew, tren jaman kapan tuh ngomong 'jiaahh'?)
Mungkin dulu pas SMP aku sok hipster ya, tapi waktu itu, aku suka melontarkan pertanyaan seperti ini: "Pacaran itu apaan sih?"
Beuh. Filosofis sekali, kan? Tentu saja, temen-temenku nggak ada yang bisa jawab.
Sepengertianku sih ya, waktu itu pacaran = punya temen cowok yang bisa dipanggil 'sayang', bisa di-sms-in, ditelponin, dan digandeng ke mana-mana. Soal kenal orangnya luar dalem, bomat. Pokok muka lumayan + kayaknya orangnya baik + tembak = jadian. Rumusnya kira-kira gitu, menurut observasi Noska belia. Itu gara-gara cowok yang udah kutaksir dari SD dan udah kenal lama banget tiba-tiba nembak cewek yang baru dikenalnya dua bulan, dan waktu aku tanya ke cewek itu kenapa nerima, dia bilang, "kayaknya dia orangnya baik." (Like, whaaaaat?)
I can't even, bruh.
Aku percaya kalo pacaran itu tuh lebih dari itu, seenggaknya kenal dulu lah baru pacaran! Helah, masak belom kenal ya gandeng-gandeng aja. Gak gitu lah cuy. Gila keren banget ya w dulu pas SMP? Padahal mah kepengen juga, sampah lu Nos hahahah.
Anyway, aku baca-baca lah ya soal fenomena jatuh cinta ini. Dan dari situ aku tau macem-macem soal hormon-hormon yang membuat kita terus-menerus membayangkan objek perhatian kita, hormon yang membuat hati serasa melayang (oksitosin, ini hormon kebahagiaan yang lumayan populer namanya), hormon yang membuat kita ingin menyentuh pasangan kita, gitu-gitu.
Asik deh, seru bacanya. Aku sih emang dulu cita-citanya kepengen jadi dokter hormon atau saraf ya, jadi ya... Ya gitudeh. Meskipun udah beralih jalur ke teknik, pop biological/psychological science buat aku selalu menarik dari dulu sampe sekarang.
Aku jadi tau kalo jatuh cinta itu bisa dibilang 90% chemical. Ketertarikan itu ada sainsnya, dan itu berhubungan erat dengan kompatibilitas biologis. Dengan kata lain, kita akan selalu lebih tertarik dengan orang yang gen-gennya secara biologis cocok dengan sel-sel yang ada di dalam tubuh kita. Itulah kenapa kita lebih gampang naksir sama orang-orang yang ganteng atau cantik.
Salah seorang dosenku pernah memberikan pertanyaan seperti ini:
"Bisa nggak kalian membuat sebuah program yang bisa menentukan apakah seseorang itu cantik?"
Tentu saja, maksudnya beliau pertanyaan itu retorikal, karena kecantikan itu relatif. That's the idea, right?
Aku sebenarnya bisa jawab pertanyaan itu, dan jawabannya adalah "BISA", apabila kita mengasumsikan pengetahuan programmingnya sudah ada, peralatannya ada, data-datanya ada dan program itu bisa dibuat terpisah berdasarkan letak geografisnya.
Kecantikan memang relatif di semua tempat. Misalnya, di tempat-tempat subtropis biasanya orang-orang yang kulitnya sedikit lebih gelap dianggap eksotis dan cantik, sedangkan di tempat-tempat beriklim tropis, seperti di Indonesia, biasanya yang kulitnya putih dianggap lebih cantik.
Umumnya secara universal bentuk tubuh yang proporsional dan sedikit chubby dianggap lebih atraktif, sedangkan di daerah-daerah yang lebih primitif, perempuan-perempuan bertubuh besar dan gempal, dan, di beberapa suku, berdaun telinga panjang, dicari-cari dan merupakan kriteria isteri idaman. Kaki kecil di Cina, leher panjang di Mesir, aku bisa kasih daftar contoh yang panjang, tapi kamu pasti sudah mengerti maksudku.
Tapi ada satu hal: semua wanita-wanita yang indah ini, walaupun terlihat berbeda, tetap memiliki satu hal yang sama: proporsi wajah yang hampir simetris. Percaya atau tidak, itulah formula kecantikan.
Lagi, ada faktor x yang membedakan apa yang dianggap cantik di berbagai tempat, tapi umumnya bentuk mata seperti kacang almond, hidung mancung, pipi merona, dan bibir yang pink segar bisa diterima sebagai 'cantik' di berbagai tempat. Semakin simetris, semakin cantik.
(Tapi tidak benar-benar simetris, karena ada lagi fenomena yang judulnya 'The Uncanny Valley'. Tapi itu topik lain untuk kapan-kapan. Beruntungnya, Tuhan Maha Adil, sehingga tidak mungkin ada orang di dunia ini yang mukanya benar-benar simetris.)
Kenapa? Karena seperti itulah ciri-ciri gen yang sehat dan optimal. Orang-orang yang cantik/ganteng itu sebenarnya menguarkan aura "inilah gen super bagus!" yang tidak bisa kita lihat tapi langsung ditangkap oleh radar biologis kita yang super canggih. Keren kan? Heuheu.
Dan itu terjadi secara otomatis, tanpa perlu diproses secara kognitif di otak besar bagian depan kita. Bagian itu diatur sama otak primitif kita, "reptilian brain", yang objektif utamanya satu: survival.
Otak primitif kita bereaksi terhadap tiga hal: makanan, seks, dan bahaya. Tanpa dijabarkan lagi udah jelas kan alasannya kenapa? Kita butuh makanan supaya bisa tetap hidup, reproduksi itu krusial untuk meneruskan keturunan, dan mendeteksi bahaya penting untuk mempertahankan hidup.
Inilah kenapa di iklan-iklan (mungkin bukan iklan Indonesia tapi), seringkali kita bisa menemukan elemen-elemen tersebut. Tujuannya supaya secara nggak sadar, kita akan selalu lebih aware akan keberadaan produk dalam iklan-iklan tersebut dibanding dengan iklan lain yang tidak menggunakan ketiga elemen di atas.
Eh? Kalau makanan kan memang wajar, tapi emang bisa ya masukin seks ke dalam iklan? Apa nggak terlalu vulgar?
Beuh, nggak percaya. Emang kedengarannya licik, tapi seriusan, perusahaan-perusahaan iklan itu bisa sampai memperkerjakan ahli psikologi untuk bisa meng-instill brand-brand produknya ke otak kita, para konsumen.
Yang sering kalian denger mungkin tentang Disney ya? Hidden Mickeys itu bukan benar-benar soal mencari logo-logo Mickey, lho. Kurang kerjaan banget itu mah. Logo-logo Mickey itu udah digambar di berbagai movie dan animation jauh sebelum ada yang namanya Disney Channel. Permainan mencari logo Mickey itu baru di kemudian hari diperkenalkan ke masyarakat, karena semakin besarnya kecurigaan terhadap adanya usaha memasukkan subliminal messages ke alam bawah sadar orang-orang.
Nah, itu dia istilahnya: 'Subliminal Message'. Secara singkat, itu kayak film Inception gitu. Masukin ide ke dalam alam bawah sadar seseorang, tanpa disadari oleh orang yang bersangkutan, bedanya gak pake mimpi, cukup lewat repetisi gambar-gambar tersebut aja.
Ini ada beberapa contoh produk yang masukin subliminal message lewat iklannya dengan tujuan utama supaya konsumen akan merasakan ketertarikan yang instan dan tidak bisa dibantah terhadap iklannya. Ketertarikan, dan melalui repetisi, akan selalu ingat, dan kemudian berlanjut ke... itu dia: beli produknya. Yoi. Welcome to the harsh world of advertising.
But I digress. Sori jadi keluar topik hahaha. Intinya ya gitu, ketertarikan kita terhadap seseorang itu memang selalu, aku ulangi, SELALU, diawali oleh ketertarikan fisik. Plis! Aku bukan ngomong gini karena aku ngerasa jelek, soalnya aku ngerasanya aku cantik, tapi karena ini emang the harsh truth yang aku rasa kadang nggak bisa diterima oleh orang-orang yang hanya mengandalkan ketulusan hatinya saat mencari pacar.
Tulus sih tulus, terserah coy. Selama rambut lo berminyak, muka lo jerawatan, dan lo males perhatiin penampilan ya... Selamat aja sih. Selamat menjomblo sampai lo mau berubah.
Ini bukan curcol, sumpah.
(Kecualiiiiiiii, kepribadian kamu emang sumpfe bgd menariknya. Ndud ndud banyak yang naksir, emang bisa kayak gitu kalo orang keren.)
Balik ke topik; setelah kita tertarik itulah, baru kemudian akan ada usaha untuk mengenal orang tersebut. Setelah kenal, dan menghabiskan waktu cukup lama bersama dia dan memikirkan dia (bisa disebut juga investasi waktu, tenaga, dan pikiran), baru deh... timbul perasaan yang judulnya 'suka' atau 'sayang'. Kemudian... jedor! Jadian. Nah... ini baru pola yang umumnya terjadi, dan bisa aku terima. Bukan pola yang SMP itu tadi, duh...
Atau bisa juga pola ketertarikan itu dulu, baru jadian, baru suka...? Entahlah. Aku bener-bener kicep kalo ada yang mau ngebantah aku di sini, soalnya aku sendiri belum pernah ngalamin langsung. (Curcol maneh...)
Soal cinta itu sendiri, aku percaya kalo itu adalah tingkatan paling tinggi di antara semua perasaan yang aku jelasin di atas.
Itu adalah tingkatan yang paling suci dan sakral, bukan untuk dikeluarkan dari mulut ABG, bukan untuk dikatakan oleh yang baru pacaran setahun, bahkan bukan untuk dikatakan oleh pasangan yang sudah menikah 5 tahun.
"Aku cinta kamu" adalah, bagi aku, frase yang hanya pantas untuk diucapkan oleh seorang nenek yang, setelah seharian penuh menjalani operasi yang sakit dan melelahkan, kata-kata pertamanya kepada kepada suaminya (kakekku) yang datang menjenguk adalah... "Pa... sudah makan?" Oh men. Oh meeeeeen. :') Such cute, much wow. That's love for you.
Perasaan yang tulus dan sepenuhnya selfless. Janji yang tak akan terpatahkan oleh situasi seperti apapun. Itu, arti cinta buat aku. Justru malah biasanya orang-orang yang sudah saling mencintai itu tidak butuh mengatakan atau mendengar kata-kata "aku cinta kamu" itu tadi. Sudah saling tahu. Sudah saling membuktikan; seiring waktu. Demi apapun itu cita-cita aku hahaha.
Tentu saja, fase itu masih jauh di depan bagiku. Untuk sekarang, aku masih stuck di bagian 'tertarik' dan 'suka' saja. Yang aku jelasin barusan di atas itu hanya pemahamanku yang masih keterlaluan sempitnya, yang barangkali juga, masih terlalu idealis dan utopis. Tahu apa aku soal cinta? Bukan bermaksud sarkastik atau ironis, aku seriusan nggak tahu apa-apa.
Aku belum bisa mencintai siapapun selain diriku sendiri.
Di tengah semua gejolak ini, aku hanya bisa mencoba memahami emosi yang kurasakan, dan bertanya-tanya apakah perasaan ini semata-mata soal status dan gengsi.
Anyway kayaknya ini udahan aja, udah capek kan bacanya? Hahaha. Makasih lho. Sampai jumpa di edisi jurnal pikiran berikutnya yaa. Kissbyemuah.
***
Keterangan:
geek = uwong cupu tukang baca buku/main game
Like, what's the big deal? = kayak, emangnya kenapa sih?
bomat = bodo amat
I can't even, bruh = gue udah ga ngerti lagi bro
repetisi = pengulangan
digress = keluar dari topik
Keterangan2:
Bagian keterangan ini ada karena ada orang yang (ehem) suka males baca tulisanku gitu kalo ga ngerti bahasanya.
P.S.:
Sori banget aku nggak bisa nge-backing apa yang aku tulis di atas dengan link maupun sumbernya, karena...sudah lupa. Aku cuma inget ada beberapa yang asalnya dari buku Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps oleh Allan & Barbara Pease.
P.P.S.:
Btw ada banyak bit menarik yang nggak aku masukin di atas supaya bacaannya nggak jadi kepanjangan, misalnya, kerja otak primitif + fluktuasi hormon itu tadi bisa menjelaskan kenapa cowok-cowok kalo ngeliat cewek seksi pasti langsung noleh, mau dia punya pacar apa enggak, hahaha. Seriusan itu natural, bukan karena cowoknya bokep. Kalo ada cowok yang sok-sokan nggak ngeliatin, itu karena willpowernya gede aja hahaha. Tapi cewek nggak gitu, kenapa? Karena cowok jatuh cinta secara visual, sedangkan cewek jatuh cinta dengan kelima inderanya. Nah kan, topik lagi hahaha. Udah ya, headline-nya aja. Nggak ada habisnya emang ngomongin fenomena polinlop.
P.P.P.S.:
Iya, aku tahu banyak soal ini, soalnya kalo malem minggu suka kurang kerjaan gitu deh hahaha. All comments are welcome. Fire away!
UPDATE: Hey duds. Dudes and nduds. Hehehe. Aslinya tulisan ini (sebelum diupdate) aku rasa terlalu panjang dan mungkin melelahkan untuk dibaca sekaligus, jadi beberapa bagian aku potong supaya bisa lebih ke arah edukatif daripada curcol. Dari yang awalnya cerita summary soal tulisan-tulisan di bulan Januari yang nggak jadi aku publikasikan, jadi cuma bagian pas aku lagi mikirnya aja. Anyway, semoga ini cukup menjelaskan kalau kamu sempet bingung di beberapa tempat. Terimakasih sudah membaca :) -N,8Mar16







No comments:
Post a Comment
Penny for your thoughts?