Saturday, February 27, 2016

Dua


Satu pertanyaan yang menggantung: benarkah aku mengingatnya lebih indah dari yang sebenarnya?
Mungkin aku mengingatnya lebih wangi dari yang sebenarnya, lebih tampan dari yang sebenarnya.
Tapi memang, memang tampan. Sedikit-sedikit aku mencuri hafal seluk beluk wajahnya sementara ia mendengarkanku berbicara. Berat suaranya kupelajari sedikit-sedikit, berharap setelah lama berselang aku akan terbiasa dengan logat kecilnya. Diam-diam aku merutuki diri karena menulis tentang seseorang yang, katanya, belum cukup pantas untuk mendapatkan satu karya untuk dirinya sendiri. Katanya. Sepertinya sepiawai apapun aku merangkai kata, tak luput nada suka dari tiap hurufnya. Percuma, aku jatuh cinta. Kalau sudah dicap begitu oleh orang-orang terdekat, tak ada yang akan percaya kalau aku berkata sebaliknya. Mati-matian aku mencoba menjelaskan bahwa ini hormon belaka. Belum kenal, belum! Dan jujur saja, aku pun tak yakin mau dibawa ke mana hubungan ini selanjutnya. Itupun kalau yang begini sudah bisa disebut sebagai hubungan. (Lha iya, belum terhubung. Hubungan apanya?)


Heran juga, kalau bertemu rasanya biasa saja. Biasa kalau... Degup jantung yang naik seketika tiba-tiba dan senyuman yang setengah ditahan-tahan bisa dibilang sebagai "biasa saja". Ya memang biasa saja, di situlah anehnya. Seperti sudah mengenal lama. Mungkin perbandingannya aneh, tapi rasanya seperti berbicara dengan mama. Santai saja. Tak perlu terburu-buru. Seperti itu kesan yang kudapatkan.

Entah apakah memang dimaksudkan seperti itu atau akunya yang terlalu aktif menangkap kode dan sinyal yang tak pernah dikirimkan, aku berniat untuk menjalankannya seperti itu. Berpikir terlalu jauh dan terlalu banyak seringkali lebih banyak menyulitkan daripada menguntungkan.
Tapi susah juga, saban malam wajahnya bertandang. Sekalipun tak kusapa, ia muncul sendiri di ruang tamu pikiran. Membalut batin, menggenggam sukma. Tanpa perlu hadir. Yaapa caranya mau nggak dipikirin? Hahaha.
Sudahlah, mungkin saran klise ini bisa jadi penutup tulisan sekaligus bahan renungan untuk selanjutnya. Dua kata: "Jalani saja."

No comments:

Post a Comment

Penny for your thoughts?