Friday, August 28, 2015

Nobita Ditampar.

Hari ini Noska merasa tertampar. Noska, yang gak peka itu, merasa tertampar.
Tamparannya keras. Langsung ngena ke asalnya.
Bukan ditampar lagi malah rasanya.
Rasanya kayak tonjokan keras ke muka, ke perut.
Aku nggak mau sebut nama di sini, mendingan langsung fokus ke inti permasalahannya.
Malam ini (tadi) aku seharusnya hadir di rapat besar untuk salah satu proker di jurusanku, di mana di situ aku posisinya sebagai kepala salah satu bidang. Pertemuannya dijadwalkan pukul 18.00 WIB.
Aku tiba pukul 19.38 WIB.
Tidak bertanggungjawab? Memang.
Sewaktu aku sampai, bidangku sudah selesai dibahas, jadi aku duduk saja mendengarkan pembahasan bidang yang lain.
Tidak ada yang berkata apa-apa padaku. Tidak juga ada yang marah atau apapun ketika melihat aku datang terlambat.
Hanya setelah acara usai dan semua berpisah untuk makan, temanku memberitahuku apa yang tadi dibicarakan waktu aku tak ada.
"Bidang ___ bagaimana? Noska mana?"
"Noskanya belum datang."
"Hhh."
"Sudah deadline telat 2 minggu, ini lagi kalo ngumpul telat terus."
"Dimaklumin ajalah temen-temen, Noska kan emang punya masalah."
"Masalah apa?"
"Masalah jam tidur."
Aku nggak tahu teman-teman responnya seperti apa, apakah tertawa atau tegang.
Tapi aku, aku tegang.
Aku malu sekali.
Di satu sisi aku tertawa. Ya lucu. Semuanya juga tahu aku tukang telat.
Di sisi lain, aku geram. Geram pada diri sendiri. Malu.
Mukaku merah, tanganku terkepal.
Aku pulang ngebut, tangan kiriku mencakar stang motor.
Memang, tadi aku ketiduran. Aku bangun pukul 18.23.
Lalu aku sakit perut, ke kamar mandi.
Sebenarnya bisa lebih cepat. Tapi aku berlama-lama.
Jam 19.11, aku berangkat naik motor, meskipun tahu jalanan sedang macet.
Padahal aku kabid.

Seperti kata temanku, aku memang punya masalah sama jam tidur.
Di post ku yang judulnya "Kalong Tidur Pagi dan Nonton Filem", aku sempet singgung soal itu.
Nggak aku jelasin ya? Oke sekarang aku jelasin.
Noska tidur semaunya pada jam-jam yang salah, dan tidak waspada maupun bertanggungjawab atas konsekuensi yang mungkin muncul gara-gara itu.
Contoh: Sudah tau besoknya ada kegiatan pagi, malah tidur jam 3. Jam 4. Jam 5 pagi. Sudah gitu ngeluh sakit.
Sudah tau nanti siang/sore ada rapat, malah tidur, alasannya ngantuk, tapi nggak setel alarm, akhirnya ketiduran.
Nanti sudah tau ternyata skip rapat, tambah stres, tidur lagi, bukannya makan, akhirnya sakit beneran. Besoknya nggak ikutan kegiatan, terus nggak ngabarin, hp disilent. Atau mati, sengaja nggak dicharge.
Jujur ya ini emang situasi yang memalukan dan memprihatinkan, nggak pantes diceritain ke siapa-siapa sebenernya.
Nggak butuh dikasih semangat atau apapun juga, karena emang masalahnya mendasar.
Nggak ada yang bisa ngerubah diri aku selain aku sendiri.
Lagian orang mau komentar apa? "Sabar ya"?
Malu lah, udah mahasiswa masih kayak gini.

Intinya dari kejadian ini aku jadi ketampar banget.
Sebenernya udah ngerti kebiasaanku ini masalah, masalah BESAR.
Tapi baru sekarang aja nyadar, ini ngefeknya jauh ke mana-mana.
Nggak cuma jadi masalah di kesehatan aja, kuliah juga.
Dan yang paling aku takutin, ke orang-orang.
Temen-temen susah gara-gara aku.

TANGGUNG JAWAB.

Apa sih arti kata itu buat kamu, Nos?

Masalah kayak gini bukan pertama kalinya, dan bukan cuma sekali-dua kali.
Ini masalah dari jaman MABA, dan sekarang udah mau jadi PEMBINA.
Masak masih kayak gini? Aku malu pake huruf besar.
M     A    L    U.

Nobita dari jaman SD sampe sekarang masih sama aja. Tukang telat, tidur siang mulu, pemalas. PR nggak dikerjain, waktu kosong bukannya dipake belajar malah tidur, main. Udah gitu cengeng, semua masalah minta diselesaiin sama Doraemon, nggak pake ngaca, nggak pake berubah.
Apa Noska kayak gitu juga?
Noska itu Nobita apa bukan?

Bukan!
Bukan.

Makasih buat yang udah nampar, kritik dan saran tersirat diterima dengan lapang dada.
Aku nggak bisa janji nantinya bakal bisa rajin, bisa berubah.
Tapi aku cuma bisa nyoba buktiin.
Bukan ke kalian temen-temen, bahkan bukan ke Tuhan.
Ke diri aku sendiri dulu.
Mudah-mudahan bisa.
Dalam nama Tuhan, BISA.

No comments:

Post a Comment

Penny for your thoughts?