Thursday, July 23, 2015

Firasat

"There's no good thing that happens after 2 AM."
-How I Met Your Mother

Yah, berhubung jam 2 pagi masih lama (sekarang jam 23.41), dan kayaknya hati ini udah kebelet banget pengen ngomong, yuk mari kita buka sesi curhat larut malam bersama dashboard blogger versi mobile dan layar retak aipun masa kini.
Sebenernya ya, aku sekarang lagi agak-agak fly abis minum antibiotik yang berfungsi untuk penyembuhan gigi ayas yang baru dioperasi. Obat ini selalu punya efek bikin badanku gak enak. Tambah lagi mataku silau karena aku sedang menatap satu-satunya sumber penerangan di ruangan gelap ini. Jadi yha.....mungkin agak nggak tepat kalau ini tidak dinyatakan sebagai ide yang buruk. (Mampus deh lu bacanya.)
TAPI.
Tapi.
Aku tadi beberapa jam yang lalu baru saja membaca salah satu cerpen dari buku Rectoverso karya Dee. Aku pilih "Firasat", karena cuma itu yang lagunya aku tau. Dan beb, percayalah, aku tersedu-sedu dalam hati.
Sambil audio lagu Firasat performed by Raisa mengalun di sisi belakang otak, aku membayangkan tokoh utama berlari mengejar apa yang tak terelakkan di tengah guyuran hujan dibantu visual berupa foto-foto hujan yang indah, ditambah kata-kata terakhir yang menghujam dan ngena, beuh! Aku terkesima. Aku terlena. Wuah . . . Berasa nonton sinetron bintang lima.
Gak penting sih, intinya aku cuma mau cerita. Si tokoh utama kan pertama kali ketemu cowoknya langsung tau. Langsung mengerti. Entah bagaimana.
Yha....tepat seperti itulah saat aku melihat dia untuk pertama kalinya. Bukan 'melihat pertama kali' dalam pengertian yang harfiah, tapi... Waktu aku 'melihatnya'. Pertama kali.


Ada rasa yang tak tergambarkan.
Apa ya, aku nggak ngerti tapi pokoknya aku tahu.
Aku dan dia adalah manusia yang sama. Kita adalah kembaran yang terpisah.
Entah bagaimana.
Aku nggak tahu apa ini hanya bagian dari usaha menyedihkan diriku sendiri untuk membenarkan apa yang aku tahu tidak masuk akal, tapi...
Aku tahu.
Pokoknya aku tahu.
Aku harus bicara dengannya.
Mungkin bukan sekarang atau setahun kedepan atau dalam waktu dekat, tapi...
Harus.
Kata cowok di cerita itu, kita bicara bahasa hati, hanya seiring berjalannya waktu, kita menjadi lebih sibuk dengan pikiran yang kacau balau, tak sempat mendengarkan hati.
Katanya, kita harus percaya hati kita.
Dan aku berjuang, berjuang memahami apakah semua ini bahasa hati, atau hanya dambaku belaka.
Obsesi tak sehat yang tak kunjung hilang.
Semoga aku menemukan jawabannya kelak.

Ruang keluarga Buluama (gelap),
00.04 WIB

No comments:

Post a Comment

Penny for your thoughts?