Dari yang biasanya nggak punya temen, sekarang malah kebanyakan temen.
Bukan sombong atau apa, (apa yang mau disombongkan?) tapi jumlah temanku sekarang berkali-kali lipat jumlah teman-temanku yang dulu. Yang aku nggak tahu adalah, dengan datangnya teman, datang pula kewajiban untuk memupuk pertemanan tersebut. Yang aku baru sadari sekarang, teman nggak sama seperti benda mati di pelataran yang ada di sekitar kamu, dan seolah hanya ada untuk tinggal di seputar kamu saja. Teman nggak sama seperti action figure yang bisa kamu koleksi dan kamu tinggalkan berdebu di lemari. Mereka manusia juga, yang bisa merasa bosan, bisa merasa muak, termasuk terhadap kamu juga.
Bukan sombong atau apa, (apa yang mau disombongkan?) tapi jumlah temanku sekarang berkali-kali lipat jumlah teman-temanku yang dulu. Yang aku nggak tahu adalah, dengan datangnya teman, datang pula kewajiban untuk memupuk pertemanan tersebut. Yang aku baru sadari sekarang, teman nggak sama seperti benda mati di pelataran yang ada di sekitar kamu, dan seolah hanya ada untuk tinggal di seputar kamu saja. Teman nggak sama seperti action figure yang bisa kamu koleksi dan kamu tinggalkan berdebu di lemari. Mereka manusia juga, yang bisa merasa bosan, bisa merasa muak, termasuk terhadap kamu juga.
Aku pernah bilang, kan, kalo punya teman itu banyak keuntungannya? Mereka akan membantu kamu di saat-saat tak terduga.
But, you see, you can't have those for free.
For all those advantages you gotta pay a price.
And that price, my friend, is by simply being a friend to them.
But, you see, you can't have those for free.
For all those advantages you gotta pay a price.
And that price, my friend, is by simply being a friend to them.
You gotta help them too.
Listen to their worries.
Be there for them.
Untuk mendapatkan seorang teman, kamu harus jadi teman juga.
I guess that's what I failed to do.
Since, you know. I've only ever been a friend to my own self...and a terrible one at that.
No comments:
Post a Comment
Penny for your thoughts?