Saturday, March 15, 2014

Aku 'Kan, Udah Gede!

(via iwantbdphotography.com)

Apakah kalian pernah bertengkar dengan orang tua kalian?

Pasti sudah pernah. Senurut apapun, semanis apapun kalian pada orang tua kalian sendiri, pada suatu titik tertentu, pasti akan ada yang namanya konflik dengan orang tua. Kalau belum pernah, berarti kalian belum pernah mengalami yang namanya masa remaja.

Remaja itu masa pencarian jati diri, mereka bilang. Dan memang benar adanya. Enam tahun melewati masa SMP dan SMA...bukan waktu yang singkat. Seharusnya sih sekarang jati diri itu sudah ketemu, ya nggak sih? Jawaban yang akan disetujui oleh siapapun yang sudah menemukannya adalah tidak, dan tidak akan pernah sampai mentalmu sudah mencapai taraf yang mereka sebut 'dewasa'. Sungguh mengecewakan. Aku cuma bisa bilang bahwa aku juga baru bisa menerka-nerka kira-kira seperti apa jati diriku itu, dan bukan mengetahuinya dengan pasti. Licik juga ya, jati diri itu. Ngumpet ke mana dia, hingga bisa hilang selama bertahun-tahun gitu? Padahal udah dicariin seluruh dunia, tapi tetep ngilang juga. Kurang ajar.

Tapi... sekarang umurku kan sudah 18 tahun. Udah dewasa itungannya! Udah punya katepe, Jenderal!! Tapi tetap saja, aku tidak merasa ada yang berbeda. Malah makin merasa semakin bodoh saja dari hari ke hari, karena (kata kakak-kakakku di Gonzaga) duniaku sekarang sudah semakin luas, tidak lagi sesempit keluarga dan teman sepermainan. Kini, di atas langit, masih ada langit lagi, dan di atasnya masih ada langit lagi, dan lagi, dan lagi, dan lagi, sampai ke surga. Aku tidak akan pernah bisa menang. Bisa saja sih, kalau duniaku kupersempit jadi antara aku dan Zen (anjingku) saja. Siapa di antara kami yang lebih pintar? Jelas aku. (Kataku, tentunya.)

Regardless, menginjak usia adolescent ini, aku juga kepingin (merasa) dewasa. Setelah belajar sangat banyak sedikit tentang dunia, aku ingin bisa mandiri, ingin bisa membuat keputusan sendiri mengenai apa yang ingin kulakukan di dunia. Ingin lepas dari segala jeratan orang tua, meskipun secara finansial memang belum mampu. Salahkah?


Bukannya aku benci orang tuaku, tidak. Aku hanya merasa bahwa sekarang seharusnya aku sudah tidak lagi berlindung di bawah ketiak mereka. Tentu saja aku tahu bahwa aku sangat beruntung masih bisa meminta segalanya dari mereka, tapi, pada suatu saat, hal itu harus berhenti juga, bukan? Pada saat aku sedih, aku lari ke Mama. Pada saat aku mau pergi jalan-jalan, aku diantar sama Bapak, uangnya pun dikasih sama Bapak juga. Mau sampai kapan? Pada saatnya nanti, aku harus belajar menata emosiku sendiri. Pada saatnya nanti, aku tidak akan bisa dengan seenaknya memakai uang hasil jerih payah ayahku. Aku harus bisa pergi ke mana-mana sendiri, mengatur keuanganku sendiri. Dan...bukankah saat itu adalah...sekarang?

Kuakui, aku memang belum sepenuhnya dewasa. Aku masih belum disiplin mengatur waktu. Pembawaanku yang lemah itu juga memang mengkhawatirkan. Juga, kemampuan navigasiku memang sangat buruk. Buta arah, maksudnya. Tapi kan, itu kan sesuatu yang bisa kupelajari! Itu sesuatu yang harus kupelajari. Dan bagaimana aku bisa mempelajari itu semua kalau belum mencoba? Dan bagaimana aku bisa mencoba kalau untuk urusan naik angkot sendiri saja masih dilarang...?

Curhat sedikit ya. Hari ini rencananya aku mau pergi ke ARTE 2014, sebuah pameran seni yang mencakup visual arts, film screening, culinary arts, dan performance dari band-band superkeren. Ada band yang sangat kusuka dan sudah datang jauh-jauh dari Bali, tidak mungkin aku lewatkan. Sampai detik aku menulis ini, acaranya masih berlangsung, harusnya. Tapi, dari awal mau pergi, sudah susah urusannya.
Pertama, aku seharusnya sudah bilang dari berhari-hari yang lalu, dan bukannya hari Senin aku UAS? Tapi, aku memang sudah bilang, dan aku sampai sudah menyicil segala dari berhari-hari yang lalu cuma supaya di hari libur ini aku bisa bebas pergi! 
Ke dua, aku tidak boleh naik kereta sampai ke Goethe Institute, tempat pertemuan dengan temanku. ("Memangnya kamu tidak baca berita?? Banyak perempuan yang hilang!!") Yah, okelah. Untuk alasan keamanan, aku bisa mengerti. But seriously? Kenapa harus temanku yang disuruh menjemput aku? Dia kan bukan pacarku. Apakah ibuku sebegitu tidak percayanya dengan aku hingga urusan pergi sendiri saja aku harus diantar seperti anak TK?
Ke tiga, setelah perdebatan panjang akhirnya disetujui agar aku naik bis sampai ke tempat pertemuan yang akhirnya diganti, yaitu f(X). Tapi, setelah melihat macet yang sangat panjang, dengan begitu saja aku tidak diizinkan untuk pergi.

Seriously?? For God's sake I'm not thirteen anymore! I'd be riding on the bus myself, I'll get stuck in the traffic jam myself. Kalau naik bis dari Bekasi jam 2, mau macet sampai 3 jam juga masih akan keburu sampai di Senayan kalau band-nya tampil jam 7 malam! Aku bahkan tidak akan berada langsung di belakang setir, tidak akan capek. Orangtuaku tidak akan repot apa-apa. Aku bahkan sudah menabung agar cukup uang untuk pulang sendiri naik taksi, tidak perlu dijemput oleh ayahku. Waktu belajar dan segalanya sudah aku perhitungkan, tapi tetap saja dengan segala cara aku tidak dibolehkan untuk pergi. Aku benar-benar kesal dibuatnya.

Memang, itu artinya mereka sayang padaku. Tapi, aku bukan anak kecil lagi. Kapankah mereka akan membiarkanku menerima konsekuensi dari perbuatanku sendiri? Kalau akhirnya aku capek, biarlah aku yang menerima akibatnya. Kalau akhirnya aku menyesali perbuatanku, itulah yang harus aku terima untuk apa yang kuperbuat. Pengalaman adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka ajarkan. Dan aku kesal mengapa mereka mencoba mengambil itu dariku.

Aku sejujurnya merasa malu pada diriku sendiri yang begitu dimanjakan. Banyak teman-temanku yang sudah memulai perjalanannya menjadi dewasa dengan mengatur kehidupan mereka sendiri. Pergi ke mana-mana sendiri, mengatur uang jajan sendiri, mengatur waktu belajar sendiri. Aku sering malu pada mereka karena tidak tahu caranya naik kendaraan umum ke sini, ke situ. Aku merasa sangat manja. Aku merasa masih seperti anak kecil yang kemana-mana masih harus menggandeng tangan orangtuanya, sudah tertinggal jauh dari teman-teman yang sudah menapaki jalannya sendiri-sendiri. Aku kesal.

Tapi, ini juga masih merupakan bagian dari tumbuh dan berkembang. Lebih dari aku harus bisa membawa diriku sendiri, patuh pada nasihat orang tua adalah skill dasar yang harus selalu kupegang teguh. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, orang tuaku masih orang tuaku. Mereka yang melahirkan dan membesarkan aku. Aku harus belajar menerima semua keputusan mereka, terlepas dari aku menyukainya atau tidak. Di dunia luar sana nanti pun, aku akan bertemu dengan atasan-atasan yang keputusan-keputusannya harus kupatuhi tanpa tapi-tapi. Bedanya, keputusan orang tuaku adalah demi masa depanku yang lebih baik, sedangkan atasanku nantinya? Belum tentu. Seharusnya dengan begini sudah jelas siapa yang lebih mudah dipatuhi. Apalagi, orang tuaku bukanlah model orang tua yang otoriter. Mereka memang mendidik dengan tegas, tapi tidak kasar dan mengekang. Jika memang mereka melarangku melakukan ini-itu, mereka pasti memiliki pertimbangan yang rasional. Kuharap untuk urusan hari ini pun begitu :'

Jadi, kesimpulannya, aku memang masih kecil. Masih sangat, sangat kecil.

No comments:

Post a Comment

Penny for your thoughts?