Monday, December 2, 2013

Cerita Sedih

Halooo :) Selamat malam semuanya. Udah lumayan larut juga ya, jam 11 malem lebih sedikit. Sekarang adalah jam-jam di mana anak remaja biasanya merasa paling galau, betul? Yak, berhubung gue masih termasuk remaja juga, sekarang ini gue juga lagi agak-agak galau gimana gitu deh...hehe. Mau ikut curhat-curhatan malam hari bersama gue? Sebelum itu, kayaknya lebih enak kalo kita curhat-curhatannya sambil dengerin lagu deh. Sambil gue nulis, sambil lo baca, kita sama-sama dengerin lagu yang sama. Ah, romantisnya. Ini dia lagunya:




Udah diklik belom tombol play-nya? Kalo udah, yuk kita cerita-cerita :)


Lirih Penyair Murung, karya Dialog Dini Hari. Mungkin dengan membaca judulnya saja, lo sudah bisa menebak kira-kira seperti apa perasaan gue saat ini. Mungkin dengan mendengarkan liriknya sedikit, lo bisa meraba bahwa lagu murung ini ditujukan pada orang yang istimewa. Mungkin, dengan mendengarkan sedikit lebih lama lagi, lo akan menyadari bahwa orang yang istimewa tersebut tidak berada dalam jangkauan gue.


Hari ini...hari ulang tahun orang yang istimewa itu. Kini umurnya 18, umur yang menyiratkan bahwa dirinya kini sudah harus memiliki kedewasaan dalam berpikir, kemampuan untuk membuat keputusan sendiri, dan kemampuan untuk bertanggungjawab terhadap keputusan tersebut. Tapi, untuk manusia yang satu ini, dia tidak perlu menunggu 18 tahun untuk dapat melakukan itu semua.



Dewasa, berakhlak baik, tegas, namun lembut. Cerdas, namun rendah hati. Semerbak merekah, namun sederhana. Ia bukanlah anak remaja yang biasa kau temui di mana-mana. Pemimpin yang teladan dan disegani, aura indahnya memancar dan menerjang, tidak hanya pada gue, tapi juga hati orang-orang lain.


Awalnya gue hanya kagum padanya, pada pribadinya, pada caranya menghadapi persoalan. Kemudian, gue kagum pada caranya berdiplomasi, pada caranya bertanggungjawab, pada caranya menghargai orang lain. Lalu, gue mulai kagum pada caranya berbicara, pada caranya tersenyum, pada tawanya... Lama-kelamaan, rasa kagum itu berubah menjadi sesuatu yang lain.


Tapi, apapun nama yang bisa disebutkan untuk perasaan semacam ini, tidak ada sesuatupun yang bisa gue lakukan untuk mengatakan hal ini padanya. Ya, untuk apa? Sejauh yang gue tahu, gue hanyalah gadis lain yang mengantri di belakangnya, menunggunya untuk menoleh dan membagikan sedikit senyumannya.


Pernah, sekali, di matanya terlihat ada sesuatu yang lain. Pernah, sekali, gue melihat dia gugup di depan gue. Lalu, apa? Hal itu tidak membuat gue menjadi spesial di antara seribu pasang mata lain yang juga melirik padanya. Jadi, apa yang sedang gue lakukan? Jatuh cinta pada pribadi yang dicintai semua orang, dan berharap ia menoleh pada gue seorang? Ini konyol. Memang, kalau kelenjar hipotalamus sudah bertindak, untuk urusan yang satu ini, sel-sel otak yang lain cuti dulu sementara.


Mungkin, memang hanya ini yang bisa gue lakukan, mengeluh dan mengesah dengan menyedihkan pada pojok rahasia yang bisa dilihat semua orang, pada hari ulang tahun orang yang istimewa bagi gue. Tapi...semua itu, semuanya, akan berhenti sampai pada tulisan ini saja. Pada dunia nyata, selanjutnya, gue akan keluar dari cangkang gue yang sempit. Dan tunggulah, pada saatnya nanti, dalam bentuk bunga yang mekar sepenuhnya, guelah yang akan mengunjungi taman jiwanya...mungkin.


Selamat ulang tahun.

No comments:

Post a Comment

Penny for your thoughts?