Sunday, February 19, 2012

Katanya, Perbedaan Itu Indah

The original title of this post was 'Lapar!'. This is another post I copied from my late blog. Please bear with the constant inconsistencies with the facts regarding this blog! *senyum mohon maklum*
-Noska, 24Nov2013


Selamat pagi! Selamat tahun baru! Selamat ulang tahun buat gue! dan Selamat Hari Valentine! dan selamat-selamat lainnya yang telat gue ucapkan dalam blog ini.

Gue sedikit bingung mau nulis apa kali ini. Nulis tentang valentine? Males. Nulis tentang ulang tahun gue yang ke-16? Males juga. Sejujurnya, gue ga pengen nulis tentang apapun. Ga ada ide. Kayaknya kalo lagi di depan twitter tuh inspirasi lancar banget, giliran udah buka halaman ini...kenapa oh kenapa. Kemana perginya segala inspirasi itu? Don't go away! T_T

Gue jadi lupa tujuan utama gue bikin blog ini tuh buat apa. Gue rasa gue pengen ngebagi isi pikiran gue yang abstrak ini ke siapapun yang tertarik untuk mengetahuinya. Karena gue tuh selalu berpikir. Dalam keadaan seperti apapun. Lagi nunggu bis, lagi bosen, lagi mager... Atau sebagaimana orang-orang di sekitar gue menyebutnya: melamun.

Sebetulnya gue nggak melamun! Oke gue melamun, terserah. Tapi selama gue melamun itu banyak ide-ide brilian yang terlintas di pikiran gue, dan sayangnya gue terlalu males ngebuka mulut gue untuk ngebagi pikiran-pikiran tersebut ke orang-orang di sekitar gue. Gue lebih suka diem. Padahal kalo udah nulis gini gue nyerocosnya minta ampun. Jangan follow twitter gue deh kalo nggak siap ngebaca tweet-tweet random yang bener-bener make batas maksimum jumlah karakter. Malah biasanya apa yang gue mau tweet itu lebih dari 140 karakter. Dan gue terlalu malu untuk ngepost apapun itu di Facebook. Maka jadilah blog ini. Tadaa! *sound effect*

Gue rasa salah satu alasan lain kenapa gue bikin blog adalah karena kecenderungan gue ini dari kecil: nulis apapun hasilnya selalu panjang! Nggak puisi, nggak cerpen, nggak jawaban untuk esai ulangan (yang ini lumayan menguntungkan) hasilnya selalu panjang. Kesannya bertele-tele gitu, padahal...bukan. Bukan bermaksud begitu, paling nggak. Mungkin karena gue itu orangnya detail. Nyokap gue dulu ampe stres kalo mau nyuruh-nyuruh gue. Kalo perintahnya gak detail, gue gak akan mau jalan. Misalnya dia nyuruh gue nyariin dompet.

"Noska, cariin dompet Mama."
"Di mana?"
"Di kamar Mama."
"Iya, di mana nya?"
"Di laci."
"Laci yang mana."
"Laci lemariii."
"Lemari yang manaaa-_-"
"Ya cari doong! Ih."

Ya bukan salah gue dong kalo di kamarnya lemari banyak banget. Lemari baju, lemari di bawah TV, lemari di samping kaca, lemari di bawah wastafel, lemari di kamar mandi. Masa gue disuruh mikir sendiri katanya. Rese kan?

"Ma."
"Apa lagi?"
"Dompetnya yang mana?"

Gue hampir yakin dia mau nampar gue.

Okelah, mungkin itu bukan contoh yang tepat untuk menggambarkan kalo gue itu orangnya mendetail. Itu lebih ke contoh yang tepat untuk menggambarkan kalo gue itu...rese. Anak yang tidak bisa diharapkan, males mikir, dan lain-lain. Tapi sudahlah.

Sekarang gue punya inspirasi. Gue baru inget tentang kejadian yang cukup menggantung di pikiran gue kemaren. Hal-hal yang baru gue ketahui tentang pikiran orang lain. Hal-hal yang cukup mengejutkan gue. It's amazing to know that you know so little, when you think you've learned everything there is to know. Selalu terjadi pada gue. Di saat gue merasa gue udah ngerti, kenyataan berbalik dan mengejutkan gue, bahwa gue bahkan gak ngerti seperempatnya. Pengetahuan gue tentang dunia begitu virgin. Gue lebih naif daripada yang gue pikir.

Apakah gue perlu bikin post baru lagi buat satu cerita ini? Atau gue lanjut tulis aja di sini? Sayang kan, pikiran brilian kecampur sama random thoughts... Yah sudahlah, kita lihat saja nanti. Yang penting ini gue tulis dulu.

So it hits me just a few weeks ago, in the ladies' changing room. Hari itu hari Jumat, pagi, selepas pelajaran olahraga. Sambil berganti baju, seperti yang sudah menjadi rahasia umum, cewek-cewek selalu ngerumpi di kamar mandi. Gue rasa ini bukan waktu yang tepat untuk menyelipkan fakta kecil kalo gue selalu benci ngegosip sejak SD...sampe gue akhirnya menyadari kalo ngegosip ituperlu dilakukan, cuma supaya gue bisa fit in. Fakta yang baru gue sadari di akhir kelas 3 SMP. Betapa menyedihkan. Gue rasa itulah sebabnya gue selalu susah bergaul sama anak-anak cewek. Karena gue males ngomongin orang. Kejelekannya lah, pacarnya lah, gimana caranya dia berinteraksi lah, halah. Terutama kalo sebenernya gue nggak begitu deket sama orang itu. Lebih parah lagi, kalo misalnya gue bahkan bukan temannya, dan gue hampir gak pernah ngomong sama dia. K, let's move on with the topic.

Yak, jadi... Kita lagi ngomongin soal presentasi beberapa teman kita di pelajaran sejarah kemarin. Lebih tepatnya, cara mereka membawakannya. Ada beberapa anak yang jadi 'pentolan' di presentasi itu. Gue sangat terkesan dengan cara mereka menyajikan presentasi itu. Tidak hanya fakta-fakta yang mereka beberkan lengkap, mereka juga membawakannya dengan penuh percaya diri dan terkesan sangat memahami topik apa yang mereka bawakan. Yah, gue suka banget lah pokoknya. Nggak seperti presentasi beberpa kelompok sebelumnya, mereka nggak cuma baca dari slide yang diproyeksi ke...(apa tuh namanya?) secara bergiliran, tapi mereka bener-bener "bawain" informasi itu dengan jelas. Bukti-buktinya ada, contoh nyatanya ada. Mereka hampir terlihat seperti orang dewasa, politikus-politikus di TV itu lho, karena mereka juga ngegunain kata-kata yang ilmiah waktu menjelaskan. Guru sejarah gue juga tampak sangat tertarik dengan presentasi yang mereka bawain, yang bukan merupakan suatu hal yang biasa.

Tapi ternyata, bukan seperti itu yang terlihat oleh teman-teman gue yang lain. Mereka menyebut anak-anak itu...yah, 'sotil' lah istilahnya. Sombong. Songong. Sok. Dan kata-kata bernada negatif lainnya. Mereka menganggap kalo cara mereka ngebawain presentasi itu gak enak. Kayak, sombong bangeeeet gitu lhoo! Yaudah siih kita tau lo lebih pinter, lebih tau, apalah. Tapi biasa aja bisa kan?

Gue sedikit shock dengan kenyataan ini. Sebagian karena gue nggak menyangka kalo reaksi orang lain tentang ini bakal senegatif ini, sebagian karena 'kenapa pendapat gue bisa begitu berbeda, begitu lain dengan pendapat teman-teman gue kebanyakan? Apakah itu artinya gue aneh?' dan sebagian lagi karena gue gak percaya, bahwa setelah apa yang udah diajarkan di MOPD, kalo kita itu satu, kita semua saudara, ternyata gue bakal mendengar temen-temen gue ngomongin saudaranya sendiri di belakang. Temen sekelas sendiri.

Kita lupain aja dulu alasan yang terakhir itu. Terlalu naif rasanya untuk memercayai bahwa apa yang ditanamkan oleh anak-anak kelas tiga di awal tahun ajaran, alias lebih dari setengah tahun yang lalu, bakal masih nempel dengan kuat setelah selama ini, di otak dan hati kita, anak-anak kelas satu. Susah juga sebenernya, kalo mau nempelin ideologi itu dengan kuat, kalo mereka sendiri nggak ngasih contoh yang bener-bener konkrit...oke ini topik yang lain lagi, dan cukup kontroversial. Lebih baik gue tutup mulut sekarang.

Kembali ke topik, yah, memang, gue rasa mereka emang keliatan sedikit lebih sombong dari biasanya waktu lagi presentasi itu. Jadi, gue nggak bener-bener gak setuju dengan apa yang dibilang oleh temen-temen gue yang lain. Gue cuma...agak terkejut aja mungkin. I didn't expect them to take it this harshly. Mungkin karena sifat gue yang emang cuek, gue nggak nganggep masalah mereka keliatan sombong itu bener-bener penting. Mungkin juga karena gue bisa dibilang ansos sampe baru-baru ini, waktu masuk kelas 10. Tahun-tahun sebelumnya gue...yah, hampir gak punya temen. Jadi ketika gue akhirnya bisa temenan kayak gini, gue... *kedik bahu* gue baru tau soal hal-hal seperti ini. Seperti yang udah gue bilang, pengetahuan gue soal dunia begitu virgin.

Mungkin itu penting buat temen-temen gue yang lain. Mungkin mereka take their attitude as an offense. Analisis psikologi amatir gue mengatakan kalo mereka ngerasa 'diserang' atau merasa 'diejek' karena mereka nggak sebagus anak-anak yang presentasi itu. Singkatnya, jealous. Gue menemukan kesamaan antara hal yang terjadi di sini dengan apa yang gue alami ketika TK dan SD. Ketika gue mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru sedikit lebih bagus dan sedikit lain dari yang dikerjakan teman-teman gue yang lain...gue diserang. Gue diejek. Gue dibilang aneh. Padahal guru gue bilang it's perfectly fine, dan ngasih gue nilai yang tinggi buat tugas itu.

Silahkan bilang gue sama soknya dengan mereka. Silahkan bilang gue soktau. Tapi gue gak pernah bilang kalo apa yang gue bilang itu bener. Ini cuma perasaan gue. Ini cuma apa yang gue pikirkan. Lo gak perlu mendebat gue untuk 'menyadarkan' gue, mengubah sudut pandang gue supaya gue 'ngerti'. What comes in my mind, stays in my mind. And it's not changing to please anyone.

Ternyata begitu caranya survive di dunia ini. Lo harus 'sama' dengan orang lain. Gak boleh lebih, tapi kalo kurang, lo bakal disingkirkan. Betapa sulitnya manusia untuk menerima perbedaan, menghargai perbedaan. Terutama sulit menerima teman yang sedang maju. Beda sedikit, dibilang aneh. Punya pendapat 'agak lebih maju' sedikit, diketawain. Kalo gitu, kapan Indonesia majunya? Begitu banyak otak-otak brilian dengan ide-ide yang luar biasa di sekitar kita, tapi terpaksa bungkam karena takut ditertawakan oleh orang-orang lain. Takut tidak diterima dan dikucilkan.

But again, this is just my opinion. Opini dari seorang remaja usia enam belas yang masih buta soal dunia.
Gue juga masih harus belajar. Belajar menerima perbedaan pendapat.

Oh, will you look at the time! It's noon now. What, it took me 2 hours to write this? Sekarang gue percaya kalo gue emang seorang Babble-Master. Kalo gue nulis lagi sekarang, post ini bakalan tambah panjang. Dan gue masih...laper, seperti 2 jam yang lalu. Ukidi, gue makan dulu yach. Bye for now.

No comments:

Post a Comment

Penny for your thoughts?